NGRUMAT BANYU PANGURIPAN

09/08/2025

DAPOBUD-OPK: Pengetahuan Tradisional,

MERAWAT SANG RAJA KAYA

Guyangan sapi (tempat pemandian ternak sapi), adalah sebuah kolam air yang tak dalam, berbentuk kotak dengan variasi dimensi ukuran, yang berfungsi sebagai tempat untuk memandikan ternak sapi milik warga. Sapi menjadi salah satu raja kaya yang penting bagi warga Wukirharjo, hampir pada setiap rumah tangga tani tampak merawat beberapa ekor sapi di kandang. Selain itu mereka juga berternak kamping dan ayam kampung.

Lanskap alam Wukirharjo ini pada ketinggian 205 mdpl, dengan kondisi perbukitan batu Ciwa Plateau, terisi oleh pemukiman, kebun ladang, dan sawah tadah hujan. Tampak di antara sela-sela pekarangan rumah, kebun dan sawah mereka, telah dimanfaatkan secara optimal untuk tanaman rumput sediaan pakan hijauan bagi ternak raja kaya nya mereka tersebut.

Perbukitan batu disini juga menghadirkan banyak curuk batu (song, guwo) dan kekar. Dari kekar batu itu juga kadang mengalirkan rembesan air tanah, yang kemudian dirawat oleh warga untuk berbagai kebutuhan, yang salah satunya adalah untuk guyangan sapi nya.

Bagi warga Wukirharjo, air adalah kehidupan. merawat air adalah merawat berkah kehidupan itu sendiri. Dan hal itu diekspresikan sangat mendalam melalui banyak peristiwa budaya mereka.

SENDANG SIBEDUG DAN ILMU TITEN

Sendang Sibedug terletak di Dusun Klumprit 2, Wukirhajo, Prambanan, Sleman. Keberadaan Sendang Sibedung dipercaya berasal dari masa lampau, melalui kisah seorang pengelana sakti, yang tiba disitu, kemudian membuat cerukan kecil pada lapisan batuan disitu, sehingga memunculkan aliran mata air ini. Untuk menghormati sang pengelana tersebut, warga merawat sendang tersebut, dengan menyebutnya sebagai Sendang Sibedug. Yaitu, pengerjaan sendang dilakukan dalam tempo singkat, sebelum tengah hari (Bedug, tanda waktu umat muslim untuk menjalankan ibadah sholat siang).

Sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah Ilahi yang telah menghadirkan sumber air di tanah perbukitan batu ini, warga sekitar mengekspresikan sesajen Ngguwaki, di setiap mereka akan menyelenggarakan hajatan, secara individu/rumah tangga maupun komunal.

Pada bulan September 1990 lalu, warga bergotong-royong semakin memuliakan area sendang ini dengan membangun bangunan permanen beratap yang bagus, sehingga semakin terjaga kebersihan sumber air tersebut. Termasuk menjaga keberadaan pohon besar, sebuah pohon randu alas yang sangat besar, berbunga merah setiap musim, tampak masih berdiri gagah di area ini. Juga, ada pohon Wungu yang dikeramatkan, letaknya tak jauh dari pohon randu alas ini.

Dalam keseharian sekarang, komplek Sendang Sibedug ini diatur pemanfaatannya. Dari dua fasilitas bangunan terpisah, yang kolam pertama adalah khusus untuk pengambilan air minum saja, dan yang kolam kedua bisa dimanfaatkan untuk yang lain, seperti mencuci baju Peran lain dari sendang ini adalah saat warga beramai- ramai mengakses fasilitas ini menjadikan berlangsung perbincangan yang egaliter. Semacam menjadi ruang komunikasi sosial dan kohesi sosial mereka, berbagai update perkembangan kondisi dan situasi desa menjadi tersambung rasa dengan lancar.

Panorama keintiman suasana keseharian perdesaan disitu, selain keramaian perbincangan saat mencuci bersama, juga itu ditambah kegiatan ngguyang sapi di dekatnya. Kotak kolam Guyangan Sapi disini punya jalur aliran yang berbeda, sehingga tidak tercampur dengan aliran kolam mencuci. Keren sekali penataan kelola ngrumat banyu ala warga Klumprit 2 disini. Pemanfaatan dan tata kelola air sungguh dimaknai secara adil dan bernilai tinggi, mungkin dikarenakan keinsyafan komunitas atas keberadaan kehidupan mereka di atas perbukitan batu Ciwa Plateau. Yang telah mengajarkan banyak pengalaman yang lalu, perihal bagaimana krisis akses air bagi rumah tangga dan bagi raja kaya nya.

Naungan kanopi pohon Randu Alas (Bombax ceiba L.) begitu meneduhkan. Mungkin ini pula salah satu alasan kenapa pohon ini sering ditanam oleh umat Hindu di dekat bangunan suci dan dikeramatkan sebagai simbol kesucian juga.

Bagi warga Dusun Klumprit 2, bahkan pohon Randu Alas ini menjadi bagian dari perangkat penting dalam khasanah pengetahuan Ilmu Titen mereka, dalam tata budidaya sawah dan kebun ladang, sebagai penanda kedatangan musim penghujan dan musim kemarau. Hingga masa sekarang, jika bunga-bunga Randu Alas telah berguguran habis, maka tiba sebentar lagi akan segera memasuki musim kemarau, dan proses budidaya pun akan menyesuaikan kondisi musim kemarau nya.

Penghayatan relasi manusia dengan alam yang sedemikian mendalam, bisa jadi itu adalah bentuk nilai luhur yang berlangsung menyambung dari masa lampau (masa Hindu di Ciwa Plateau) hingga masa kini. Sebagai proses kesadaran manusia mengakui adanya campur tangan Ke-Ilahi-an dalam sepanjang daur hidup mereka.

SENDANG SERUT DAN BUDIDAYA PANGAN DI LAHAN PERBUKITAN BATU

Sendang Serut berlokasi di Dusun Klumprit 2, Kalurahan Wukirharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman. Lapisan tanah disini cukup tipis, sekitar kedalaman 2 meter saja, dengan dibawahnya adalah Watu Tlatar atau lapisan batuan keras yang diduga berasal dari proses vulkanik purba, dan lapisan ini memanjang hingga kearah bawah sana. Petani disini pun mempunyai strategi adaptasi dalam merawat tanah nya agar tak hanyut terbawa aliran air hujan, menata petak lahan budidaya berterasering teras batu. Demikian juga alat bertani juga dimodifikasi sedemikian rupa, ada Pecok, Dandang, Paju, dan lain-lain.

Sendang Serut ini sebenarnya mata air yang muncul rekahan batu (kekar, istilah geologi). Dan, dimanfaatkan sejak dahulu, untuk berbagai kebutuhan warga. Jika musim kemarau datang, disini sering mengalami kekurangan air bersih, sehingga adanya air sendang ini menjadi penting. Air sendang juga dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.

Pada beberapa tahun kemarin, warga bergotong royong memperbagus sendang ini, dengan memperdalam bagian kolam air (memakai tenaga manusia, dengan alat Betel dan Bodem untuk memecah batu, dan berlangsung selama beberapa bulan pengerjaannya) serta bagian tembok dinding, agar fasilitas umum terjaga kebersihan dan kerapian nya.

Sendang Serut ini dinaungi oleh kanopi pohon Munggur (Samanea Saman) atau Rain Tree, yang sangat besar dan berusia ratusan tahun. Pohon itu seperti mencengkeram dan menjaga struktur batuan yang tepat di atas Sendang Serut ini.

SUMUR GUMULING

Di gugus perbukitan Ciwa Plateau di Dusun Klumprit 1, Kalurahan Wukirharjo ada satu lagi sendang (sumber air permukaan) yang disebut warga sebagai Sumur Gumuling.

Beragam struktur batuan yang unik, diantara alur tak beraturan petak-petak lahan tadah hujan milik warga, dengan penampakan struktur ceruk gua batu (Song), yang didalam nya terisi air tanah dan ada bentuk menyerupai pipa alami (kekar batuan) agak besar pada bagian pojok nya yang mungkin menjadi jalan naik air yang berasal dari kedalaman sumber nun jauh sana.

Dijumpai seperangkat sisa sesajen bunga yang telah mengering dan jejak bekas bakaran dupa kemenyan, yang menunjukkan bagaimana pentingnya keberadaan sendang Sumur Gumuling ini selain dimanfaatkan bagi keperluan lahan budidaya, juga menjadi medium ekspresi syukur dalam bagian dari menjalani laku ke-Jawa-an bagi warga yang meyakininya. Jika sudah tiba hari Jumat Kliwon. lebih banyak lagi yang mengadakan sesajen atau ngguwaki disini.

Pola budidaya pada lahan dengan lapisan tanah tipis dan non-irigasi di perbukitan berbatu begini, tentu membutuhkan strategi adaptasi yang cermat dan penuh perhitungan mulai dari saat menanam hingga memanennya, serta juga penggunaan alat produksi yang lebih efektif. Termasuk merawat ceruk-ceruk vertikal pada permukaan batu guna menjebak dan menampung guyuran air hujan, serta masih banyak lagi. Nah, pengetahuan agraris itu sepertinya telah diturunkan dari generasi ke generasi disini. Termasuk, menjalani siklus mengekspresikan rasa syukur atas berkah kelimpahan hasil panennya.

Ada keunikan strategi adaptasi yang lain disini, yaitu ketika menjumpai struktur gubuk di lahan sebagai tempat berteduh dari sengatan matahari dan juga untuk menyimpan beberapa alat kerja. Dimana gubuk itu terletak diatas lempeng batuan utuh, dan keempat tiang gubuk tersebut masuk tertancap erat pada empat lubang bulat dengan kedalaman yang cukup, sehingga posisinya kokoh. Lubang untuk tempat memasukkan tiang ini bikinan tenaga manusia, prosesnya menggunakan alat pahat betel dan palu.