Bahan :
-
Tepung beras
-
Gula jawa/merah
-
Parutan kelapa
-
Tape singkong
-
Vanili/daun pandan
-
Garam sedikit
-
Air matang secukupnya
-
Minyak goreng secukupnya.
Cara Membuat :
- Siapkan seluruh bahan. Rebus gula jawa, air, vanili/daun pandan dan sedikit garam hingga larut. Biarkan sampai hangat.
- Campurkan tepung beras dan parutan kelapa dalam wadah. Masukkan larutan rebusan gula jawa tadi. Aduk hingga merata, selama beberapa menit, dan adonan menjadi pas (tidak encer dan tidak kental banget). Istirahatkan adonan ini selama beberapa menit lamanya.
- Panaskan minyak goreng dalam wajan cekung, diatas kompor/tungku kayu bakar dengan api sedang.
- Setelah minyak cukup panas, lalu tuangkan adonan menggunakan satu sendok sayur. Siram-siram minyak panas pada bagian atasnya. Tusuk dengan lidi pada bagian tengahnya. Apabila sudah tidak ada adonan yang meleleh keluar, dan warna sudah kecoklatan, tandanya kue cucur sudah matang. Kemudian angkat dan tiriskan.
Demikian, lakukan kembali berulang-ulang, tuangkan adonan satu persatu, hingga habis. - Sajikan, alasi daun pisang, dan nikmati dengan hati gembira.
Kue Cucur bagi warga Wukirharjo adalah salah satu ekspresi simbolik yang wajib hadir melengkapi keindahan sesaji syukur kepada Sang Hyang Tinggi, setiap kali menjalani laku kejawaan mereka di lanskap perbukitan batu Ciwa Plateau ini, baik pada ritual individu/rumah tangga seperti sedekahan atau upacara daur hidup, maupun pada ritual komunal seperti merti dusun/desa dan nyadran nya.
Keunikan dalam tradisi Kue Cucur Wukirharjo ini punya dua versi citra rasa, yaitu manis legit dan gurih. Yang berada pada sentuhan tangan sang maestro yang meracik formula resep itu, oleh Simbah Simur muncul citarasa manis legit dan oleh Simbah Simur muncul citarasa gurih.
